Pesta Laut di Bengalon Jadi Tradisi Rutin, Berbagai Kegiatan Kerap Ramaikan Pelaksanaannya

Pesta Laut di Bengalon Jadi Tradisi Rutin, Berbagai Kegiatan Kerap Ramaikan Pelaksanaannya
Seni Budaya
Illustrasi sumber google

KUTAI TIMUR - Pesta laut di Kecamatan Bengalon atau lebih dikenal dengan petik laut merupakan sebuah upacara adat atau ritual rasa syukur kepada Tuhan. Sebagai ungkapan memohon berkah rezeki dan keselamatan. Kegiatan ini selalu diramaikan ribuan masyarakat.

Tidak lupa, kegiatan ini kerap dirangkai pula dengan larung saji. Ritual ini merupakan ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa rintangan di kemudian hari. Simbol rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk sajian yang selanjutnya diarak dengan kapal dan dilarung ke tengah laut.

Untuk meramaikan pula, beragam perlombaan digelar, yang menjadi daya tarik tersendiri. Biasanya warga sekitar dan pendatang memenuhi dermaga tempat pelaksanaan kegiatan itu berlangsung.

Pesta Laut itu juga dirangkai dengan festival pangan olahan ikan. Masyarakat yang hadir tak hanya dari Bengalon, tapi juga dari wilayah Sangatta dan Kecamatan lainnya. Bahkan, warga luar Kutim seperti Samarinda sampai Sulawesi turut hadir memeriahkan acara tahunan itu. Tidak sedikit pula para pendatang berpartisipasi sebagai peserta dalam perlombaan. Tak ayal, wisatawan dapat menemui puluhan nelayan saling adu dan pamer seni menghias kapal. 

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kutim, Nurullah menyebut, biasanya lomba memancing terdiri dari beberapa kategori. Yakni kategori lokal dan umum. “Bagi kategori lokal, pemancing dikhususkan menggunalan kapal. Kalau umum memancing di spot wisata dari pinggir dermaga sekitar muara,” ujarnya. Jumat, (10/4/2020). 

Kegiatan itu lanjut dia, berlangsung di Desa Muara Bengalon. Letak geografisnya yang berada di Muara Sungai Bengalon dan berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Dia berharap kawasan ini bisa menjadi desa nelayan yang mempunyai tambak ikan untuk memasok kebutuhan pangan di Kutim. 

"Makanya diperlukan dukungan dan keterlibatan semua pihak. Baik pemerintah, swasta maupun masyarakat," kata Nurullah.

Kini, tambah dia, acara tersebut telah menjadi agenda tahunan sebagai tradisi dan budaya masyarakat. Dia pun mengapresiasi tradisi yang telah dilestarikan nelayan itu. Apalagi kekuatan budaya sebuah kearifan lokal yang harus dipertahankan.

“Jangan sampai hilang tergerus zaman. Budaya itu identitas setiap daerah. Wajib dilestarikan,” paparnya.

Pemerintah daerah pun berencana akan mengembangkan tradisi sebagai sebuah atraksi tradisional. Pemberitaan mengenai tradisi ini pun bakal diperluas secara nasional maupun internasional. (RS) (Adv-Kominfo)


Kontributor : Eki Nugraha
Editor : Nanang Habibi
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar