Hardiknas 2 Mei, Momentum Kembalinya Esensi Pendidikan Bangsa

Hardiknas 2 Mei, Momentum Kembalinya Esensi Pendidikan Bangsa
Suara Pembaca
Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI Fanda Puspitasari

Oleh: Fanda Puspitasari
(Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI)

Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahunnya diperingati oleh republik ini, merupakan buah yang tumbuh dari benih-benih perjuangan yang telah ditanam oleh Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang akrab disebut dengan Ki Hajar Dewantara terhadap dunia pendidikan di tanah air. Sepanjang perjalanan perjuangannya, Ki Hajar Dewantara menaruh perhatian yang sangat serius terhadap kondisi pendidikan di bangsa ini. Berkat kontribusinya yang besar terhadap pendidikan di tanah air, maka sebutan Bapak Pendidikan Nasional tersemat dalam nama besar Ki Hajar Dewantara. Penghormatan setinggi-tingginya kepada Bapak Pendidikan Nasional juga dapat kita saksikan dengan ditetapkannya tanggal kelahiran beliau sebagai hari besar nasional bangsa Indonesia (melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959), yang setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar Dewantara pada hakikatnya telah merumuskan konsep dasar pendidikan yang begitu luas dan besar jasanya bagi dunia pendidikan di negeri ini. Konsep dasar tersebut tercermin dalam ajaran beliau yang diwariskan ketika mendirikan Sekolah Perguruan Taman Siswa. Salah satu konsep besar itu adalah Tri Pusat Pendidikan. Tri Pusat Pendidikan menggambarkan bahwa untuk membangun konstruksi mental, moral, intelektual, serta spiritual yang handal dan tangguh, terdapat tiga wilayah pendidikan yang menjadi wadah untuk dilaksanakannya proses pendidikan. Tiga wilayah tersebut dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. 

Ketiga wilayah pendidikan dalam Tri Pusat Pendidikan menjadi medan perjuangan penting yang harus bersinergi dalam melaksanakan proses pendidikan kepada generasi bangsa. Namun, realitanya pada hari ini, ajaran tersebut mulai tersamarkan, sehingga menyebabkan disorientasi dalam tujuan. Pasalnya, proses pendidikan di lingkungan keluarga tidak dijadikan agenda wajib untuk dilaksanakan. Orang tua lebih cenderung memasrahkan anaknya untuk sekedar mendapat pendidikan dari sekolah. Orang tua menganggap bahwa pendidikan formal di sekolah adalah yang utama dan telah memenuhi syarat bagi sang anak untuk menjadi manusia yang pintar dan “sukses”. 

Ketika pendidikan di lingkungan keluarga diabaikan dan sepenuhnya dipercayakan kepada lingkungan sekolah, maka yang terjadi adalah anak-anak akan mengalami “kepincangan dalam pendidikan”. Hal ini lantaran sistem atau proses pendidikan di sekolah tidak memuat pengajaran akan nilai-nilai keluhuran budi maupun nilai-nilai kebangsaan. Dimana proses pendidikan yang ada tidak mencerminkan prinsip dan cita-cita dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara.  

Pada proses pendidikan, Ki Hajar Dewantara membedakan konsep antara pendidikan dengan pengajaran. Menurut Bapak Pendidikan, pengajaran merupakan pendidikan dengan memberikan ilmu pengetahuan dan memberikan keterampilan yang mempengaruhi kecerdasan pada anak-anak, yang bermanfaat untuk hidup lahir batin anak-anak. Sementara yang dinamakan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah upaya mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan yang berazaskan keadaban untuk memberikan dan memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh/jasmani anak yang selaras dengan dunianya. 

Berangkat dari konsepsi tersebut, yang terjadi dewasa ini adalah proses belajar mengajar di dunia pendidikan kita layaknya konsep pengajaran, bukan konsep pendidikan. Pengajaran yang hanya sebatas pada ruang formal dengan tujuan untuk mengembangkan kapasitas intelektual namun kurang mementingkan nilai-nilai budi pekerti. Sistem pendidikan formal yang lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif saja dan kurang memperhatikan aspek afektif, serta minimnya pengajaran-pengajaran kebangsaan. Sehingga, yang terjadi adalah terciptanya generasi yang pintar tetapi tidak memiliki karakter yang dibutuhkan bangsa. Hal tersebut menyebabkan anak-anak yang notabene merupakan penerus dari peradaban bangsa ini mengalami “Kepincangan dalam Pendidikan”. 

Di negara kita, baik dalam persepsi pemerintahan maupun masyarakat, kriteria generasi cerdas dan pintar adalah mereka yang mampu menghafal rumus matematika, fisika dan kimia diluar kepala, mereka yang mendapatkan nilai sempurna pada setiap ujian, dan yang mampu berbicara bahasa asing dengan cakap. Hal ini muncul karena salah satu faktornya adalah kurikulum pendidikan yang ada di negara ini cenderung berorientasi pada hal-hal yang pragmatis, yang hanya mementingkan nilai diatas kertas semata. Kemudian praktik tersebut akan membentuk konstruk berfikir anak didik, bahwa kesuksesan adalah semata-mata perkara hasil atau materi. Sehingga menyebabkan mereka lebih cenderung untuk bersikap realistis atas kehidupan mereka sendiri. 

Hal tersebut tentu bukanlah makna dari pendidikan yang dicita-citakan Bapak Pendidikan Nasional kita. Sebab pendidikan yang benar menurut Ki Hajar adalah pendidikan yang tidak mengasah intelektual semata, namun juga rohani kejiwaan anak didik dan fisik kesehatan jasmani. Upaya untuk mewujudkan peradaban bangsa yang baik adalah melalui pendidikan karakter, pendidikan akan nilai-nilai budaya, moral, kemanusiaan dan kebangsaan. Dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut, guru memegang peranan yang sangat penting. 

Guru dalam pola pikir Ki Hajar Dewantara adalah sebagai abdi sang anak, abdi murid, bukan penguasa atas jiwa anak-anak. Hubungan antara guru dan anak didik harus dilandasi oleh cinta kasih, saling percaya, jauh dari sifat otoriter dan perlakuan yang memanjakan. Pada konsep ini, anak didik bukan hanya objek, tetapi juga dalam waktu yang bersamaan, mereka sekaligus menjadi subjek. Cara mendidik yang harus diterapkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah membimbing, memberi tuntunan, serta menyokong anak didik untuk tumbuh dan berkembang berdasarkan kodrat/kemampuan alamiahnya sendiri. Sistem pengajaran ini meletakkan pendidikan sebagai instrumen dan syarat agar anak didik mampu hidup dengan jati diri dan identitasnya serta dapat berguna bagi masyarakat luas. Pada prinsipnya, pengetahuan yang baik dan perlu adalah pengetahuan yang bermanfaat untuk kepentingan bersama, kepentingan masyarakat dan negara.

Adanya sistem kurikulum yang tidak fleksibel, jangan sampai menjadi penghalang bagi guru untuk mengajarkan kepada anak-anak didiknya tentang nilai-nilai luhur dari sebuah pendidikan. Pemenuhan hak asasi bagi setiap warga negara dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas adalah nilai-nilai yang seharusnya lebih bisa dikedepankan dalam sistem pendidikan kita. Hal ini menjadi penting agar generasi bangsa sejak sedini mungkin diperkenalkan dan mengetahui nilai-nilai dasar yang seharusnya tertanam dalam diri mereka sebagai seorang penerus sebuah bangsa yang belum seutuhnya merdeka.

Pendidikan pada hakikatnya memang merupakan tanggungjawab negara, tidak hanya dari aspek fasilitas atau sarana prasarana, namun juga dari aspek substansi. Namun demikian, pendidikan hari ini cenderung fokus kepada aspek fasilitas dan aspek formalitas lainnya yang lebih dikedepankan. Kedua hal tersebut memang penting, namun jangan sampai melalaikan aspek substansi yang lebih fundamental. Pendidikan di Indonesia jangan sekedar berorientasi material. Artinya, anak didik diarahkan bahwa sukses adalah mereka yang punya nilai cemerlang, dan setelah lulus akan bekerja pada posisi yang mentereng. Tanpa memikirkan proses pendidikan yang baik dan output yang lebih substantif. Disamping itu, penting kiranya bagi Pemerintah untuk memberi ruang yang seluas-luasnya bagi para guru agar bisa menjalankan peran dan tanggungjawab mereka sebagai pendidik yang sebenarnya. 
 
Konsep pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara memiliki maksud jangka panjang bagi keberlangsungan pendidikan di bangsa ini. Dimana, sebagai sebuah bangsa yang pernah terjajah, beliau tidak menginginkan lagi bangsa ini kembali mengalami keadaan yang serupa. Satu kondisi yang pada kenyataannya masih kita rasakan sampai saat ini secara tersirat. 

Hal ini karena, setiap pergantian rezim kekuasaan, orientasi pendidikan yang ditanamkan hanya bermuara pada fomalitas pendidikan di sekolah. Padahal jika kita berbicara pendidikan, terutama bagi bangsa yang memiliki pengalaman terjajah seperti bangsa kita, formalitas pendidikan saja tidaklah cukup. Nilai-nilai pembebasan dan kebangsaan harus juga disertakan dan dimasukkan dalam ruang-ruang sekolah, keluarga dan masyarakat. 

Oleh karenanya, setidaknya sampai hari ini, tanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang lebih bersifat substansif dan demokratis pada seluruh generasi, nyatanya tidak bisa sepenuhnya kita serahkan kepada negara. Untuk itu, tanggung jawab mendidik juga harus dimaknai dan diemban oleh pendidik, tidak hanya ditujukan untuk guru pada pendidikan formal (sekolah), tetapi juga ditujukan kepada mereka yang terdidik dan tersadarkan. 

Hal tersebut lantaran Ki Hajar Dewantara mengajarkan konsep pendidikan tidak hanya untuk diterapkan dalam pendidikan formal di sekolah, melainkan juga agar diterapkan dalam pendidikan keluarga dan masyarakat. Sederhananya, ajaran Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani adalah ajaran yang hendaknya diimplementasikan secara luas, tidak hanya dalam lembaga formal berupa sekolah, tetapi juga diruang-ruang keluarga dan masyarakat luas.     

Semangat Hari Pendidikan Nasional Untuk Bangsa Indonesia..!
Kemerdekaan pikiran adalah sebuah keharusan.

“Pendidikan menurut Bapak Bangsa adalah mendidik generasi bangsa agar menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya”.


Kontributor :
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar